Tren Makin Meluas, SoftBank Bakal Bikin Chip dengan Teknologi AI

Tren Makin Meluas, SoftBank Bakal Bikin Chip dengan Teknologi AI

Smallest Font
Largest Font

IDNStart.com - Ada pesaing baru di bidang Kecerdasan Buatan. Arm Holdings, di bawah payung SoftBank Group, dikabarkan bersiap memasuki bidang pengembangan chip dengan teknologi AI.

Langkah ini merupakan bagian dari visi ambisius CEO SoftBank Masayoshi Son untuk menginvestasikan $64 miliar. Dalam presentasinya, ia menyebut ingin memposisikan perusahaan sebagai pemimpin dalam bidang AI.

Visi CEO Masayoshi Son sendiri, seperti yang dirinya jelaskan, adalah memanfaatkan teknologi AI, semikonduktor, dan robotika untuk merevolusi berbagai industri, mendorong inovasi dan pertumbuhan.

Seperti dilansir Gizmochina, Arm, sebuah perusahaan yang berbasis di Inggris yang terkenal dengan pembuatan desain chip, berencana untuk meluncurkan produk chip AI pertamanya pada tahun 2025.

Untuk memulai inisiatif ini, Arm akan membentuk divisi chip AI khusus yang bertujuan untuk meluncurkan prototipe paling cepat pada musim semi 2025.

Produksi massal chip AI Arm ini dijadwalkan akan dimulai pada musim gugur tahun yang sama. Sementara itu, dikabarkan produsen kontrak bakal menangani prosesnya.

Pendanaan untuk pengembangan chip AI ini akan ditanggung oleh Arm. SoftBank sendiri dikatakan bakal tetap memberikan dukungan.

Laporan menyebutkan jika negosiasi sedang berlangsung antara Arm dengan produsen semikonduktor terkemuka, termasuk Taiwan Semiconductor Manufacturing Corp (TSMC), untuk mengamankan kapasitas produksi.

Ke depannya, ada spekulasi bahwa setelah sistem produksi massal terbentuk, bisnis chip AI Arm berpotensi untuk dipisahkan dan diintegrasikan di bawah payung SoftBank.

Langkah strategis oleh Arm ini dilakukan di tengah-tengah dorongan yang lebih luas oleh SoftBank untuk mendiversifikasi portofolionya.

Selain itu, perusahaan bertekad menjadi pesaing sekaligus mengurangi ketergantungan pada pemain chip dominan seperti Nvidia.

Prospek pasar untuk chip AI sendiri tampak menjanjikan. Para analis memperkirakan pertumbuhan yang signifikan dengan potensi melebihi $200 miliar pada tahun 2032.

SoftBank melihat ini sebagai peluang utama untuk memanfaatkan permintaan yang meningkat dan menghindari keterbatasan yang ditimbulkan oleh pemain yang ada.

Secara finansial, SoftBank berada di jalur pemulihan, dengan tujuan untuk bangkit dari kerugian sebelumnya.

Dengan cadangan kas yang cukup besar, konglomerat ini memiliki posisi yang baik untuk mendukung rencana investasi ambisius di berbagai sektor, termasuk AI, pusat data, dan energi terbarukan.

Namun, upaya ini bukannya tanpa risiko. SoftBank memiliki rekam jejak dalam beradaptasi dengan pergeseran teknologi.

Meski begitu, memang dalam dunia bisnis, investasi yang signifikan selalu disertai dengan ketidakpastian. Hal ini pastinya akan menguji keberanian visi strategis SoftBank tersebut.

Sejarah SoftBank

SoftBank didirikan oleh Masayoshi Son pada bulan September 1981 dengan nama SOFTBANK Corp. untuk berbisnis di bidang distribusi perangkat lunak.

Pada bulan Mei 1982, perusahaan berekspansi ke bisnis percetakan dengan meluncurkan majalah Oh! PC dan Oh! MZ, masing-masing membahas komputer buatan NEC dan Sharp.

Pada tahun 1994, softbank resmi melantai di bursa saham dan valuasinya mencapai $3 milyar. Setahun setelahnya, SoftBank setuju untuk membeli Ziff Davis asal Amerika Serikat dengan harga $2,1 milyar.

Softbank kemudian menjadi penyedia layanan telekomunikasi mapan di Jepang yang memiliki jaringan selular dengan sekitar 45 juta pelanggan dan 24% pangsa pasar.

Pada 2017, Softbank memperluas portofolio sebagai Venture Capital atau penyedia pendanaan bagi start up teknologi melalui unit khusus yang dibentuk bernama Vision Fund.

Lini usaha ini sukses mengumpulkan $100 miliar untuk pendanaan berbagai industri seperti konsumen, perusahaan, teknologi keuangan, teknologi perbatasan, teknologi kesehatan, real estat, dan transportasi dan logistik.

Pada pada 2018, SoftBank Group menjual 33,5% saham perusahaan dalam IPO (initial public offering). Kemudian menjual 42% kepemilikan pada 2020.

Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Berita Terkait

Paling Banyak Dilihat